Rabu, 21 Maret 2012

GEOLOGI


GEJALA-GEJALA GEOLOGI

A.    Ruang Lingkup Praktikum
Lingkup pokok praktikum adalah mengkaji suatu wilayah tertentu yang akan dijadikan sebagai perbandingan dalam pembelajaran tentang gejala-gejala geologi. Dimana gejala tersebut akan dihubungkan dengan apa yang telah didapatkan di dalam ruangan.
Ilmu Geologi, seperti juga ilmu biologi dan astronomi merupakan bahagian dari pengetahuan alam, ialah pengetahuan yang mempelajari segala sesuatu tentang benda-benda yang terdapat dalam alam raya. Satu-satunya jalan untuk mengetahui tentang benda-benda itu ialah dengan pertolongan panca indera kita/melihat. Manusia sekarang tidak lagi mencoba menerangkan sesuatu kejadian dengan pertolongan kepercayaan atau hipotesis yang samara-samar, akan tetapi pengetahuan alam itu mempunyai satu tujuan mencari dalil-dalil serta syarat-syarat yang dapat menerangkan jalannya proses-proses alam.
Geologi sebagai pengetahuan alam mempelajari segala gejala-gejala yang terdapat di atas muka bumi dan di dalam bumi. Tak semua gejala geologi dapat kita lakukan prosesnya dalam laboratorium. Proses geologi berlaku dalam laboratorium Universal, ialah alam sendiri. Proses waktu juga yang memainkan pranan penting dalam mempelajari gejala geologi tersebut. Pengetahuan geologi itu bukan pengetahuan yang semata-mata eksak seperti misalnya ilmu fisika.
Pengembangan pokok-pokok bahasan tersebut di atas, dirasakan mantap jika siswa/mahasiswa diajak melihat langsung di lapangan sesuai dengan potensi alam wilayah di mana yang kita kunjungi. Meskipun dalam berbagai hal, banyak sekali kendala yang dapat ditemui dalam pelaksanaan praktek lapang,tetapi tinjauan langsung ke lapangan adalah salah satu cara yang paling tepat untuk mencari kebenaran tentang segala gejala geologi yang ada di muka bumi ini.
B.   Latar Belakang
Telah kita pelajari di dalam ruangan kuliah bahwa geologi adalah pengetahuan bumi yang mempelajari lapisan-lapisan batuan yang ada dalam kerak bumi, atau lebih jelas lagi bahwa geologi adalah pengetahuan tentang susunan zat serta bentuk dari bumi. Geologi pun merupakan pengetahuan yang mempelajari sejarah perkembangan dari bumi serta makhluk-makhluk yang pernah hidup di dalam dan di atas bumi.
Dengan berdasarkan hal di atas, maka penelitian yang akan dilakukan dalam praktek adalah tidak lain dan tidak jauh dari pokok-pkok gejala geologi yang ada di daerah tujuan yang akan kita datangi, dalam hal ini yaitu daerah Mallawa. Daerah ini banyak menjanjikan berbagai hal yang dapat kita pelajari untuk kita bawa pulang sebagai bekal pengetahuan yang telah lama ingin kita ketahui secara pasti apalagi jika didukung dengan berbagai kondisi yang memungkinkan di daerah Mallawa, di antaranya kondisi struktur tanah, suhu, dan perlapisan bumi yang ada di sana.
Lembaga Mallawa yang dijadikan sebagai daerah tujuan menjanjikan berbagai peluang, yang menampakkan gejala alam bagi para mahasiswa yang ingin mendalami masalah-masalah fisis di Mallawa. Penelitian di atas dilakukan berkali-kali dalam pengamatan yang telah dilakukan selama bertahun-tahun yang lalu, sewaktu para mahasiswa Geografi juga telah melakukan penelitian di Mallawa. Sehingga hasilnya yang mereka peroleh, mereka telah konsepkan kepada kita sebagai mahasiswa baru yang baru akan melakukan penelitian di lapangan, agar daerah Mallawa dijadikan sebagai Laboratorium umum bagi pembelajaran Geologi mahasiswa Geografi sampai masa-masa yang akan dating.
Suatu praktek dilakukan dalam laboratorium dan yang menjadi laboratoriumnya ituadalah lapangan itu sendiri yang dijadikan objek tujuan. Dimana laboratorium itu dilengkapi dengan berbagai alat yang dipergunakan dalam melakukan kegiatan yang ada, sehingga tercapai hasil yang diinginkan dalam kegiatannya.
Mallawa adalah sebuah lembah subur sebagai wilayah pertanian yang dikelilingi hutan lindung milik Departemen Kehutanan. Di lembah itu terdapatlokasi pertambangan batu bara, bahkan jika dibutuhkan tambang batu gunung pun dapat dibuka di wilayah itu. Selain gejala-gejala alam fisis seperti itu, wilayah lembah Mallawa telah dijadikan lokasi pemukiman sejak lama, sehingga masyarakatnya pun telah berkembang dan beranak cucu. Jadi masalah yang dapat diamati juga sangat kompleks dari masalah soaial hingga masalah fisis.
Dengan banyaknya masalah yang dapat dilihat di lembah Mallawa ini, maka timbul keinginan untuk mempelajari atau dimanfaatkan baik dalam pembelajaran maupun dalam memahami keadaan daerah Mallawa itu sendiri. Masalah-masalah yang timbul diantaranya masalah fisis dan social.
Adapun yang ingin diteliti dalam kegiatan praktek berikut ini adalah dikhususkan pada masalah fisis saja, maka penelitian yang dilakukan difokuskan hanya pada gejala-gejala fisis yang berada di daerah Mallawa. Meskipun hanya gejala fisis yang kita amati di sana, tetapi secara tidak langsung, gejala social budayanya juga telah kita pelajari sebagian kecil. Dan untuk menelitih gejala fisis saja, bukan berarti gejala yang lain diabaikan.

B.   Shooting dan Plooting
Shooting (menembak) dilakukan dengan menggunakan kompas biasa dilakukan oleh masing-masing kelompok tepatsesuai dengan jadwal kegiatan yang telah disusun. Shooting ini dimaksudkan untuk mengetahui posisi si penembak berada di peta dengan menentukan titik pasti yang ingin dibetulkan. Kemudian setelah itu dengan mengunakan kompas mmenentukan besarnya azimuth setiap titik pasti. Sedangkan plotting adalah menentukan titik p-nya plooting tersebut di maksudkan untuk mengetahui dipendidikan dalam peta. Berikut adalah data shooting dan plooting di lokasi praktek lapangan.

NO
SHOOTING
T. PASTI
AZIMUT
KETERANGAN
1.


2.
P1


P2
1
2
3
1
2
3
N 200 E
N 310 E
N 25 E
N 22O E
N 310 E
N 10 E
B. Lekke
B. Malempong
B. Samaenre
B. Lekke
B. Malempong
B. Samaenre

C.   Pembahasan Gejala-Gejala di Lokasi
Pada pembahasan ini akan di gambarkan gejala-gejala yang ditemukan di lapangan hasil observasi berdasarkan penampakan yang ada. Kenampakan ini dikelompokkan berdasarkan lokasi.
1.    KAJIAN BATUAN
Lokasi pertama dalam observasi ini adalah sungai samaenre yang terdapat di desa Samaenre, di lembah Mallawa yang jaraknya kira-kira satu km dari perkampungan. Beberapa gejala yang menjadi obyek pengamatan yang terdapat di sungai ini adalah :    
§  Batuan Bolder
Di sebelah kanan sungai tersebut terdapat batu bolder. Batu bolder adalah bongkahan batu yang ukurannya besar dan kemudian karena adanya aliran sungai yang deras sehingga batuan tersebut berguling akibatnya batuan tersebut terpecah sehingga bentuknya pun berubah menjadi bentuk pecahan yang tajam dan bersudut-sudut menjadi bulat-bulat tumpul. Bongkahan tersebut terus mengguling kea rah hilir dan bersamaan denagn itu bertumpukan dan berpecah-pecah menjadi bolder-bolder yang ukurannya menjadi kecil.
Proses selanjutnya bolder-bolder itu pun pecah hingga lama-kelamaan jika memungkinkan akan menjadi endapan yang dialihkan ke laut. Diperhatikan proses terbentuknya bolder itu ternyata jenis batuan asalnya tidak turut menentukan. Fenomena ini juga terjadi di lembah sungai Mallawa, dimana batuan asal penyusun bolder itu ada yang terbentuk dan yang mendominasi adalah andesit.
§  Batu Gamping
Disebelah kanan sungai tersbut juga terdapat batu gamping. Menurut teori batu gamping tersebut terbentuk di dasar laut dan kemudian mengalami pengangkatan. Batu gamping adalah jenis batu endapan yang dibentuk oleh batuan yang telah ada sebelumnya oleh tenaga eksogen yaitu pelapukan pengikisan oleh air, pengikisan angin dan kemudian diendepkan di tempat yang rendah mislnya dasar laut, samudra atau pun di dasar danau. Endapan ini merupakan batuan yang lunak tetapi karena adanya proses diagnosis yaitu penekanan pada endepan yang disebabkan oleh lapisan atas endepan, maka sediment yang lunak ini menjadi keras. Proses diagnesis ini terjadi karena adanya tekanan lapisan lapisan atas.
§  Konglomerat
Konglomerat adalah jenis batuan yang terjadi karena adanya endepan dan terbentuk secara mekanik. Batu konglomerat terdiri dari bagian-bagian rekatan yang terbentuk krena aliran sungai.
§  Mata air panas yang berdampingan dengan mata air dingin
Jika kita telusuri sumber air panas dan sumber air dingin yang berdampingan tersebut, maka kita akan menemukan letak perbedaannya.
Sumber mata air panas terjadi karena adanya air tanah yang mengalir dan melalui batuan yang bersinggungan dengan intruksi magma yang memanasi batuan tersebut dan batuan ini pada salah satu perlapisannya merupakan lapisan aquiver (kedap air) sehingga airnya tidak merembes. Tetapi karena terjadi patahan pada batuan konglomerat, maka akibat patahan tersebut mengalirkan air panas itu karena menempuh perjalanan yang panjang mengakibatkan derajat pada air tersebut hanya dirasakan hangat-hangat kuku. Sedangkan sumber air dingin berasal dari daerah persawahan penduduk yang mengalir ke sungai tersebut.

2.   CEKUNGAN (DOLINA)
Lokasi kedua dalam observasi tidak jauh dari lokasi pertama kira-kira 500 km dari lokasi pertama. Gejalah yang diamati pada lokasi ke dua terdapatnya beberapa cekungan (dolina) di daerah tersebut.yang menurut teori cekungan tersebut terbentuk karena daerah tersebut adalahg daerah karst.
Sebaran dolina di daerah Mallawa tersebut sangat banyak karena jika dilihat dari daerahnya didominasi oleh daerah karst sehingga wajar lokasi mallawa terdapat banyak sebaran dolina. Namun untuk mencari hal tersebut tidak mudah karena sebagian daerahnya tertutupi semak-semak sehingga untuk menenemukan sebaran dolina tersebut harus melewati semak-semak yang lebat tersebut.
Dolina pada daerah karst terbentuk oleh pengikisan air hujan. Walaupun daerah karst merupakan daerah yang kedap air. Namun mempunyai diaklas-diaklas atau semacam pori-pori karst pada musim penghujan diaklas-diaklas tersebut terisi leh air hujan yang menyebabkan batu kapur tersebut menjadi rapuh oleh kandungan co2 air hujan. Proses pengikisan yang berlangsung terus menerus membentuk rongga di bawah tanah. Setelah rongga tersebut sudah tidak mampu menahan beban yang ada di atasnya maka terjadillah runtuhan yang merupakan awal terbentuknya dolina. 

3.    BATUAN SINGKAPAN (SINGKAPAN BATUAN)
Lokasi ini terletak di sebelah selatan desa Samaenre pada lokasi ini terdapat gejala geologi dimana terdapat fenomena batu yang tersingkap. Formasi batuan itu adalah batuan pasir, batuan serpih, dan batu sabak yang jika dilihat dari asal terbentuknya mempunyai fasies yang berbeda. Dimana terdapat batu pasir berfasies laut dangkal dan batu serpih berfasies laut dalam. Batu pasir terbentuk dari sedimen yanf terendap di laut dangkal sedangkan batu serpih merupakan endepan dari sedimen berupa danau yang terendap di laut dalam.
Adanya fakta dimana batu pasir dan batu serpih berada pada tempat yang sama memberikan gambaran bahwa pada masa lampau terjadi pengangkatan berkali-kali kemudian setelah itu terjadi kembali denudasi teori yang relefan dengan teori tersebut ialah pada laut dalam yang terendapi oleh lempung terjadi tekanan sehingga kompakmen jadi batu serpih. Batu serpih yang sudah sempurna mengalami kompaksi akan menjadi batuan sabak. Setelah laut terendapi terus menerus terjadi pengangkatan sehingga berubah menjadi laut dangkal. Ketika menjadi laut dangkal tersebut terendapi oleh sediment pembentuk batu pasir yang mengalami tekanan yang akhirnya kompak. Demikianlah proses tersebut berlangsung secara berulang-ulang dalam jangka waktu yang sangat lama.
Struktur batuan serpih dan batu sabak yang lapisannya tebal tipis menggambarkan keadaan iklim pada masanya lapisan yang tebal memberikan gambaran bahwa pada masa itu terjadi musim penghujan yang membawah endapan-endapan yang banyak ke laut sehingga lapisannya pun menjadi tebal kemudian lapisan yang tipis merupakan gambaran bahwa pada dasarnya tersebut merupakan musim kemarau yang kering sehingga endapan yang dibawah ke laut sedikit.

4.    BATU BARA DESA TELLUMPANUAE
Pada lokasi ini gejala yang diamati adalah batu bara. Batu bara ini terdapat di wilayah desa Tellumpanuae sebelah selatan kantor desa. Batu bara yang kita amti adalah batu bara yang tersingkap pada suatu terbing atau dinding sungai yang lokasi tersebut terlihat jelas bahwa batu bara tersebut masih tergolong mudah atau dalam istilah geologi di sebut lignik. Pelapisan batu bara tersebut teradiri atas tanah liat lempung batu bara lempung untuk lebih jelasnya lihat table di bawah ini.     
               
Tanah liat
Endapan lempung
Lapisan batu bara
Endapan lempung
Lapisan batu bara
Endapan lempung
Lapisan batu bara

Batu bara terbentuk sebagai hasil sedimentasi dari tumbuh-tumbuhan. Yang diakibatkan oleh diagnesa dan metamorfosa setelah tumbuh-tumbuhan tersebut mati dan bersianaerop maka proses penghancuran tidak sempat memainkan perannya yang akan merusak sisa-sisa tumbuhan tadi oleh endapan seperti lempung Lumpur dan pasir.
Sepanjang sejarah geologi yang berlangsung beratus-ratus juta tahun, maka bahan-bahan yang tertimbun itu mengalami perubahan hebat dimana karena tekanan yang berbeda begitu pula dengan suhu yang tinggi sehingga proses pengeluaran zat-zat yang secara berangsur-ansur akan kehilangan prosentase zat hidrigen oksigennya sehingga menampakkan karbonnya relative akan bertambah.
Jadi yang penting dalam proses pembentukkan batu bara ini adalah penambahan karbon relative. Dengan demikian dalam jangka waktu yang lama timbunan tanaman yang telah mati mula-mula akan berubah menjadi gambut kemudian menjadi batu bara yang mudah mendapat tekanan dan temperature yang tinggi maka akan terbentuk batu bara yang tua dan akhirnya akan menjadi granik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar